Minum Air Es Bikin Berat Badan Naik, Fakta atau Mitos?

Minum Air Es Bikin Berat Badan Naik, Fakta atau Mitos?

Tak sedikit orang yang salah kaprah terhadap air es. Untuk orang-orang yang sedang menjalani diet, minuman tersebut sering kali dianggap musuh karena dipercaya dapat menaikkan berat badan mereka. Hal ini umumnya terjadi pada pelaku diet mayo, karena selain pantang menyantap makanan manis, mereka juga tak boleh minum air es selama 13 hari. Mereka percaya aturan tersebut akan mengurangi berat badan sampai 10 kilogram dalam waktu singkat.

Benarkah demikian? Menurut dr. Diana F. Suganda M Kes SpGK—dokter spesialis gizi klinik Rumah Sakit Pondok Indah—mengatakan bahwa air es maupun air kemasan yang dimasukkan ke dalam kulkas sebelum diminum tak mengandung kalori sama sekali. Lain ceritanya kalau air es tadi dicampur dengan bahan lain yang mempunyai kandungan kalori tinggi seperti es teh manis atau es jeruk. Pasalnya, gula akan menghambat penurunan berat badan.

Selain itu, air dingin atau air es malah memberikan manfaat yang bagus untuk tubuh seperti:

1. Menyegarkan tubuh di pagi hari
Meminum air dingin atau air es setelah bangun tidur dipercaya akan mampu menyejukkan tubuh hingga memperbarui metabolisme organ, sel, hingga jaringan. Air es juga akan menggantikan cairan yang hilang atau digunakan tubuh saat memulihkan diri Anda sepanjang sedang tidur. Namun kalau Anda kurang suka yang terlalu dingin, air putih atau mineral biasa juga dapat membantu.

2. Menormalkan temperatur tubuh
Tahukah Anda bahwa air es dapat berfungsi sebagai penurun temperatur tubuh dan menggantikan cairan elektronik yang hilang lewat keringat? Jadi, bagi Anda yang gemar berolahraga, pastikan bawa sebotol air dingin untuk menormalkan kembali suhu tubuh yang naik selama sedang latihan fisik. Air dingin akan membuat pembuluh darah menciut dan pori-pori menutup.

3. Mengelola metabolisme tubuh
Ketika Anda sedang berolahraga, kinerja sebagian besar organ tubuh—terutama jantung dan otot-otot—akan mengalami peningkatan dan tubuh mengeluarkan keringat untuk mengontrol suhu. Menurut jurnal dari Experimental Physiology, minum air es selepas berolahraga akan menaikkan volume air sekaligus mengembalikan temperatur tubuh. Dampaknya, denyut jantung teratur dan tubuh kembali bugar.

4. Menormalkan kembali detak jantung
Salah satu fungsi jantung adalah memompa darah ke seluruh tubuh. Untuk menunjang hal tersebut, air es dibutuhkan untuk melancarkan sirkulasi darah. Selain itu, air dingin mampu mengembalikan detak jantung ke ritme normal. Akan tetapi, untuk poin ini, Anda disarankan minum air dingin atau air putih yang temperaturnya sama dengan suhu kamar.

Ternyata, air es atau air dingin tidak akan membuat tubuh Anda serta-merta mengalami kenaikan berat badan saat diet. Semoga informasi ini membantu Anda menjaga kesehatan dengan lebih baik!

Luka di Kaki Lebih Lama Sembuh Daripada Luka di Tangan, Fakta atau Mitos? 

Luka di Kaki Lebih Lama Sembuh Daripada Luka di Tangan, Fakta atau Mitos? 

Sebagian besar orang masih mengira bagian tubuh mempengaruhi kecepatan penyembuhan luka. Misalnya, anggapan bahwa luka di kaki lebih lama sembuh dibandingkan luka di tangan. Faktanya, ada faktor-faktor yang mempengaruhi proses tersebut, seperti yang dijelaskan berikut ini:

1. Oksigenisasi pada jaringan
Ketika terluka, kulit secara otomatis akan membentuk jaringan baru berkat adanya mekanisme alamiah, sehingga luka pun menutup cepat dan sembuh total. Untuk mengoptimalkannya, dibutuhkan oksigen yang cukup. Maka dari itu, Anda harus cermat dalam memilih pembalut luka atau dressing agar proses pertukaran gas dan udara di sekitar luka berjalan lancar.

2. Kulit yang kekurangan nutrisi
Nutrisi ternyata ikut mempengaruhi proses penyembuhan pada kulit terluka. Setidaknya, diperlukan mikroprotein seperti vitamin C dan zinc bila luka ingin cepat tertutup. Selain itu, pembentukan kolagen—sel yang yang membantu penyusunan jaringan kulit baru—membutuhkan asupan nutrisi tersebut dalam jumlah banyak, sehingga proses penyembuhan pun tak terhambat.

3. Penanganan pembengkakan
Pembengkakan atau edema sering kali muncul bersama luka di kulit. Misalnya, luka dan bengkak akibat kecelakaan yang muncul dari benturan atau hantaman keras. Jika tidak cepat dan tepat ditangani, edema tadi akan memperlambat penyembuhan. Hal tersebut dikarenakan, semakin bengkak area yang cedera, maka semakin tebal pula bagian tersebut dan menyulitkan oksigen yang akan menembus jaringan kulit.

4. Kadar gula dan lipid berlebih
Untuk orang yang sedang terluka, asupan lipid dan gula yang masuk ke dalam tubuh mereka harus dikurangi. Mengapa demikian? Karena kadar lipid dan gula yang melampaui batas normal hanya akan membuat luka kian kronis yang membuatnya sukar sembuh. Hal inilah yang terjadi pada penderita diabetes yang notabene kesulitan mempercepat penyembuhan pada kulit mereka.

5. Trauma pada bagian yang terluka
Orang-orang yang sedang terluka tidak boleh mengalami trauma seperti benturan, gesekan, hantaman, maupun kontak fisik lain yang berlebih terhadap luka. Pasalnya, trauma berisiko memperlambat proses penyembukan luka. Maka dari itu, Anda harus istirahat dan menjauhkan diri dari berbagai aktivitas yang berpotensi menimbulkan trauma pada luka.

6. Menderita penyakit autoimun
Dalam beberapa kasus, sejumlah orang tetap kesulitan mempercepat proses penyembuhan lukanya walau sudah menghindari faktor-faktor penghambat. Kondisi tersebut biasanya dialami penderita yang mempunyai penyakit autoimun (gangguan yang menyerang sistem kekebalan tubuh). Contohnya pada pasien hemofilia (kelainan darah), sebab darah dalam tubuh mereka tak bisa membeku.

Itulah enam faktor yang mempengaruhi kecepatan penyembuhan luka. Dengan kata lain, anggota tubuh tidak terlalu mempengaruhi tingkat penutupan luka yang Anda alami. Jika luka tak kunjung sembuh atau malah semakin parah, segera periksakan diri Anda ke dokter untuk penanganan tepat.

Jika bekas luka sudah kering, produk Cytolnat Centella Cream dapat memudarkan bekas luka tersebut. Sehingga tidak meninggalkan bekas luka dan kamu akan kembali PD 🙂

Makan Telur Membuat Luka Lama Sembuh, Fakta atau Mitos?

Makan Telur Membuat Luka Lama Sembuh, Fakta atau Mitos?
Meski dunia kesehatan sudah dilengkapi dengan teknologi modern, nyatanya masyarakat Indonesia masih mempercayai mitos-mitos yang beredar di bidang ini. Salah satunya adalah larangan menyantap makanan amis seperti telur saat sedang terluka. Mereka percaya tindakan tersebut malah akan membuat luka lama sembuh. Benarkah demikian?

Sejumlah ahli kesehatan menyatakan, setiap orang punya kemampuan berbeda saat menyembuhkan luka pada kulit. Menyoal mitos telur menyulitkan proses penyembuhan kulit, Widya Selapanita—pakar kesehatan dan dosen di Poltekkes Kementeran Kesehatan Jambi—mengatakan bahwa asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh justru memberikan dampak pada penutupan luka. Salah satu sumber protein yang dibutuhkan adalah telur—kontras dengan yang mitos sebutkan tadi. Mengapa telur justru mampu menyembuhkan kulit yang terluka? Simak penjelasannya berikut ini!

  • Membantu tubuh membentuk jaringan baru
    Seperti yang telah disinggung, seseorang yang terluka—terutama luka jahitan—membutuhkan asupan protein cukup. Pasalnya, kadar protein yang terpenuhi akan membantu tubuh dalam membentuk jaringan baru, sehingga jahitan pun akan cepat kering dan luka tertutup sempurna. Selain mengonsumsi telur, Anda juga bisa menyantap sumber protein hewani lain seperti daging ayam.
  • Mengeringkan dan menutup jahitan pada luka
    Vitalnya fungsi protein dalam penyembuhan luka jahitan dilatarbelakangi sejumlah kandungan penting seperti asam amino yang notabene tinggi dalam telur. Selain itu, asam amino juga terdiri atas tiga jenis, antara lain:
    1. Leusin. Jenis asam amino ini sangat bagus untuk menunjang tubuh dalam menjaga kestabilan kadar nitrogen dan pembentukan sel-sel pertumbuhan. Leusin juga mampu menyeimbangkan level gula darah atau glukosa yang akan membantu tubuh menyembuhkan luka di otot, tulang, dan kulit. Karena luka yang dijahit umumnya berada di kulit, maka peran leusin dalam hal ini akan meningkatkan peluang kesembuhan;
    2. Isoleusin. Seperti halnya leusin, isoleusin juga memiliki fungsi untuk mencegah kerusakan pada otot. Dengan begitu, otot yang mengalami kerusakan atau terluka akan langsung diperbaiki tubuh berkat bantuan dari jenis asam amino ini;
    3. Valin. Terakhir, telur juga mempunyai jenis asam amino bernama valin. Valin—seperti kedua jenis asam amino lainnya—berperan penting dalam tahap penyembuhan luka yang dijahit. Hal ini dikarenakan valin punya fungsi memperbaiki bagian tubuh yang terluka dengan membentuk lagi jaringan otot maupun kulit yang rusak.

Dari pemaparan di atas, Anda dapat menyimpulkan sendiri bahwa anggapan dilarang makan telur saat terluka sepenuhnya adalah mitos yang harus ditinggalkan. Di sisi lain, Anda jangan terlalu tergantung pada telur saat berada dalam proses penyembuhan. Ikuti saran yang dokter berikan dan konsumsi obat bila memang dibutuhkan, sehingga luka cepat kering dan tertutup.

Jika bekas luka sudah kering, produk Cytolnat Centella Cream dapat memudarkan bekas luka tersebut. Sehingga tidak meninggalkan bekas luka dan kamu akan kembali PD 🙂
Semoga informasi ini membantu!